Berdoa di Multazam

Multazam adalah suatu ruang atau tempat atau bagian yang terletak di bagunan Ka’bah yang berada jarak sepanjang kira-kira 2 meter yang mana terletak di antara Hajarul Aswad (الحجر الأسود) yaitu batu hitam atau Hajar hitam – yang merupakan salah satu batu yang terdapat dibagian sudut Kaabah, di mana para ummat muslim seringkali berdoa di Multazam. Juga Hajar Aswad adalah sebutan dari nama isteri Nabi Ibrahim A.s siti Hajar yang berkulit gelap.

berdoa di Multazam
Pintu Kaabah yang menjadi bagian dari yang disebut Multazam merupakan salah satu tempat atau wilayah yang sangat Mustajab untuk berdoa, dimana setiap doa yang dipanjatkan seseorang itu INsyaallah akan langsung diangkat kelangit , dikabulkan dan diterima oleh Allah SWT. Maka itu , adalah sunnah nya dan dianjurkan kalau memungkinkan untuk dapat berdoa di Multazam dengan meletakkan atau menempelkan pipi dan wajah , dada, lengan tangan dan kedua tapak tangan padanya (Multazam), karena begitulah cara berdoa yang dicontohkan oleh baginda Nabi Muhammad SAW pada saat beliau berdoa kepada Allah SWT.

Kalau berkaitan dengan Kaabah maka Hajar Aswad terletak di salah satu sudut Ka’bah dimana apabila orang yang mengerjakan haji dan Umrah akan melakukan tawaf maka mereka hendaklah memulai tawaf itu dengan membetulkan bahu kiri mereka ke arah Hajarul Aswad kemudian berputar mengelilingi Ka’Bah sebanyak tujuh kali yang Pada awal tawaf memulai dari Hajarul Aswad dan berakhir di Hajarul Aswad juga. Kalau Menurut pemahaman Islam bahwa, berdoa di Multazam atau Hajarul Aswad adalah batu yang didatangkan dari syurga yang pada awalnya berwarnanya putih , tetapi kemudian berubah warna menjadi hitam karena ramai orang mengerjakan haji dengan membawa bersama-sama mereka dosa-dosa yang mereka lakukan. ( Wallahu Aalam )

Menurut Ibn Ishaq dalam bukunya Sirah Rasul Allah SAW, diceritakan kisah bagaimana meletakkan semula Ka’abah oleh kabilah – kabilah Mekkah pada saat banjir besar melanda Ka’abah yang telah memusnahkan sebahagian struktur nya. Ketika itu, Hajarul Aswad telah dialihkan sementara bagi memberi jalan kepada perbaikan kembali Ka’abah pada semula dan setelah selesai perbaikan, maka kabilah – kabilah Mekkah berselisih sesama mereka mengenai kabilah mana yang lebih berhak untuk meletakkan kembali Hajarul Aswad ketempat asalnya didalam Ka’abah.

Kemudian nya, mereka mengambil keputusan untuk menunggu siapa saja ortang pertama yang akan memasuki kawasan Ka’abah disaat itu, maka akan diminta untuk membuat keputusan berkenaan dengan perselisihan mereka . Dengan kehendak Allah jualah, lelaki yang memasuki itu adalah Muhammad bin Abdullah. Usia beliau ketika itu baru mencecah 35 tahun, yaitu 5 tahun sebelum beliau menerima wahyu keRasulan. Dengan kebijaksanaan baginda , baginda meminta disediakan sehelai kain lalu meletakkan Hajarul Aswad ditengah – tengah kain tersebut dan Setiap pemimpin dari setiap kabilah Mekkah itu diminta untuk bersama memegang ujung kain tersebut lalu mengangkatnya secara bersama – sama sehingga semua pemimpin kabilah mendapatkan hak yang sama untuk ikut mengangkat batu Hajarul Aswad lalu Muhammad SAW sendiri yang meletakkan kembali Hajarul Aswad ketempat sebenarnya seperti yang terlihat saat ini , dengan memberikan kepuasan hati pada semua kabilah Mekkah dengan penghormatan yang mereka terima secara adil. Begitulah asalnya bagaimana Muhammad bin Abdullah mendapat gelaran “Al-Amin” atau “Orang Yang Dipercayai” dikalangan masyarakat Arab.

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *