Raudah dan Makam Nabi

Raudah dan Makam Nabi Serta Masjid Nabawi

Adalah masjid kedua yang dibangun oleh Rasulullah, setelah Masjid Quba yang didirikan dalam perjalanan hijrah dia dari Mekkah ke Madinah. Masjid Nabawi Masjid di bangun oleh Nabi Muhammad   pada tahun 622 setelah kedatangannya di kota Madinah. dibangun sejak saat-saat pertama Rasulullah . tiba di Madinah, ialah di tempat unta tunggangan Nabi . menghentikan perjalanannya. Lokasi itu semula adalah tempat penjemuran buah kurma milik anak yatim dua bersaudara Sahl dan Suhail bin ‘Amr, yang kemudian dibeli oleh Rasulullah . untuk dibangunkan masjid dan tempat kediaman Nabi.    Kemudian melekat pada salah satu sisi masjid, dibangun kediaman Nabi . Kediaman Nabi ini tidak seberapa besar dan tidak lebih mewah dari keadaan masjidnya, hanya tentu saja lebih tertutup. Selain itu ada pula bagian yang digunakan sebagai tempat orang-orang fakir-miskin yang  tidak memiliki rumah.   Belakangan, orang-orang ini dikenal sebagai  Ahlussufah atau para penghuni teras masjid.

Rasulullah turut membangunnya dengan tangannya sendiri, bersama-sama dengan para shahabat dan kaum muslimin. Tembok di keempat sisi masjid ini terbuat dari batu bata dan tanah, sedangkan atapnya dari daun kurma dengan tiang-tiang penopangnya dari batang kurma. Sebagian atapnya dibiarkan terbuka begitu saja. Selama sembilan tahun pertama, masjid ini tanpa penerangan di malam hari. Hanya di waktu Isya, diadakan sedikit penerangan dengan membakar jerami.

Bagian dari lahan ini digunakan untuk lahan tempat pengeringan kurma; sedangkan bagian lainnya dijadikan taman pemakaman. Menolak di sebut “menerima lahan sebagai sebuah pemberian”, dia membeli lahan tersebut dan memerlukan waktu selama tujuh bulan untuk menyelesaikan bagunan Mesjid  yang pada Saat itu luasnya 30.5 meter (100 ft) × 35.62 meter (116.9 ft).  Atapnya, ditunjang oleh pelepah kurma, terbuat dari tanah liat yang dipukul dan daun-daun kurma. Tingginya mencapai 3.60 meter (11.8 ft). Tiga pintu masjid yaitu Bab-al-Rahmah ke selatan, Bab-al-Jibril ke barat dan Babal-Nisa ke timur.

Setelah itu berkali-kali masjid ini direnovasi dan diperluas. Renovasi yang pertama dilakukan oleh Khalifah Umar bin Khattab pada tahun 17 H, Umar meratakan semua rumah dekat masjid kecuali rumah istri Nabi Muhammad untuk memperbesar masjid ini. Dimensi ukuran masjid baru saat itu menjadi 57.49 meter (188.6 ft) × 66.14 meter (217.0 ft). Lumpur digunakan untuk dinding penutup. Selain ditaburi kerikil di lantainya, tinggi atap ditambah hingga 5.6 meter (18 ft). Umar sedikitnya membangun tiga konstruksi gerbang baru sebagai pintu masuk. Dia juga menambahkan Al-Butayha bagi masyarakat untuk membacakan puisi-puisi.

kedua oleh Khalifah Utsman bin Affan pada tahun 29 H. Khalifah Utsman merobohkan masjid ini pada 649 M. Sepuluh bulan dihabiskan untuk membuat bentuk persegi panjang masjid yang menghadap ke Kakbah di Mekkah. Masjid baru tersebut berukuran 81.40 meter (267.1 ft) × 62.58 meter (205.3 ft). Jumlah gerbang disamakan pada bangunan sebelumnya. Dinding pembatas terbuat dari lapisan bata dengan adukan semen. Tiang-tiang batang kurma digantikan oleh pilar batu yang disatukan dengan kempa besi. Kayu jati juga dimanfaatkan dalam rekonstruksi langit-langit dan Sebuah tembok dibangun untuk memisahkan masjid dan rumah istri Nabi Muhammad.

Pada 707, Khalifah Umayyah Al-Walid ibn Abd al-Malik merenovasi masjid. Renovasi ini memakan waktu tiga tahun untuk menyelesaikannya. Bahan-bahan material berasal dari Bizantium. Wilayah masjid diperbesar dari 5094 meter persegi pada masa Utsman bin Affan menjadi 8672 meter persegi.  Masjid direnovasi dalam sebuah bentuk trapesium dengan panjang 101.76 meter (333.9 ft). Untuk pertama kalinya, beranda dibangun di masjid menghubungkan bagian utara struktur ke struktur terpentingnya. Untuk pertama kalinya pula, minaret atau menara  dibangun di Madinah, ia membangun empat minaret. Khalifah Abbasiyah Al-Mahdi memperluas masjid ke utara sebanyak 50 meter (160 ft). Namanya juga ditulis pada dinding masjid. Dia juga mengusulkan untuk menghilangkan enam anak tangga menuju mimbar, tetapi usulan ini ditolak, karena hal ini dapat menyebabkan kerusakan yang merugikan Menurut tulisan Ibnu Qutaibah, khalifah ketiga Al-Mamun melakuan pekerjaan yang tidak menentu pada masjid. Al-Mutawakkil memimpin pelapisan makam Nabi dengan marmer Al-Ashraf Qansuh al-Ghawri membangun sebuah kubah di atas makam Nabi pada 1476.

Raudlah (merujuk pada Al-Rawdah Al-Mutaharah), mencakup kubah di sudut tenggara masjid dibangun pada 1817C.E. saat penguasaan Sultan Mahmud II. Kubah di cat hijau pada 1837 C.E. dan lebih dikenal dengan nama “Kubah Hijau“.Sultan Abdul Majid.

mengahabiskan waktu tiga belas tahun untuk membangun kembali masjid, yang di mulai pada 1849. atu bata merah digunakan dalam material utama dalam rekonstruksi masjid. Luas lantai diperbesar hingga 1293 meter persegi. Pada dinding-dindingnya, ayat-ayat Alquran di lukis dalam bentuk kaligrafi Islam. Pada sisi utara masjid, sebuah madrasah di bangun untuk “bimbingan mengajar Alquran “.

Arsitektur

Dua masjid bertingkat berbentuk persegi panjang tidak beraturan. Ruang salat bangunan Utsmaniyah menghadap ke selatan. Bangunan ini memiliki atap rata dengan 27 kubah yang dapat di geser. Lubang di atas langit-langit masjid merupakan salah satu kubah yang mengiluminasi interior. Atap juga digunakan untuk salat ketika memasuki masa puncak, ketika kubah bergeser di atas jalur besi menuju bagian pinggir atap, membuat cahaya tambahan masuk menuju ruang salat utama. Pada masa itu pula, halaman masjid Utsmaniyah juga ditambah dengan payung-payung yang membentuk pilar-pilar tunggal. Atap masjid terhububg dengan tangga dan eskalator. Wilayah halaman sekitar masjid juga digunakan untuk salat, dilindungi oleh payung-payung besar. Kubah bergeser dan payung yang dapat terbuka secara otomatis di rancang oleh arsitek Jerman Mahmoud Bodo Rasch beserta temannya SL Rasch GmbH dan Buro Happold.

Keutamaan Masjid Nabawi

Keutamaannya dinyatakan oleh Nabi , sebagaimana diterima dari Jabir ra. (yang artinya):

“Satu kali shalat di masjidku ini, lebih besar pahalanya dari seribu kali salat di masjid yang lain, kecuali di Masjidil Haram. Dan satu kali salat di Masjidil Haram lebih utama dari seratus ribu kali salat di masjid lainnya.” (Riwayat Ahmad, dengan sanad yang sah)

Diterima dari Anas bin Malik bahwa Nabi  bersabda (yang artinya):

“Barangsiapa melakukan salat di mesjidku sebanyak empat puluh kali tanpa luput satu kali salat pun juga, maka akan dicatat kebebasannya dari neraka, kebebasan dari siksa dan terhindarlah ia dari kemunafikan.” (Riwayat Ahmad dan Thabrani dengan sanad yang sah)

Dari Sa’id bin Musaiyab, yang diterimanya dari Abu Hurairah, bahwa Nabi  bersabda (yang artinya):

“Tidak perlu disiapkan kendaraan, kecuali buat mengunjungi tiga buah masjid: Masjidil Haram, masjidku ini, dan Masjidil Aqsa.” (Riwayat Bukhari, Muslim dan Abu Dawud)

Berdasarkan hadist – hadist  ini maka Kota Medinah dan terutama Masjid Nabawi selalu ramai dikunjungi umat Muslim yang tengah melaksanakan

Ibadah haji atau Ibadah Umrah sebagai amal sunah.

 

Makam Nabi

Rasulullah  dimakamkan di tempat meninggalnya dibawah Kubah Hijau sebelah kanan , yakni di tempat yang dahulunya adalah kamar Ummul Mukminin Aisyah ra., isteri Nabi. Kemudian berturut-turut dimakamkan pula dua shahabat terdekatnya di tempat yang sama, yakni Abu Bakar Al-Shiddiq dan Umar bin Khattab Karena perluasan-perluasan Masjid Nabawi, ketiga makam itu kini berada di dalam masjid, yakni di sudut tenggara (kiri depan) masjid. Sedangkan Aisyah dan kebanyakan shahabat yang lain, dimakamkan di pemakaman umum Baqi. Dahulu terpisah cukup jauh, kini dengan perluasan masjid, Baqi jadi terletak bersebelahan dengan halaman Masjid Nabawi.

Riyadhul Jannah

Jantung Masjid Nabawi yang diistimewakan tetapi wilayahnya sangatlah kecil yang bernama Riadul-Jannah (Taman Surga). Tempat ini adalah bagian dari perluasan makam Nabi Muhammad (Raudah) hingga mimbar nya. Jamaah Haji berebut masuk menuju tempat ini karena apabila melakukan salat atau berdoa di tempat ini, maka doanya akan dikabulkan. Masuk ke area ini cukup sulit, utamanya pada musim Haji. Tempat ini hanya menampung maksimal seratus jamaah.

Riad ul-Jannah terpisah dari Jannah (Surga). Ini diceritakan oleh Abu Hurairah bahwa Nabi Muhammad Bersabda, “Wilayah antara rumahku dengan mimbarku adalah salah satu taman surga, dan mimbarku itu berada di atas kolamku.”

Raudah

Salah satu bagian Masjid Nabawi terkenal dengan sebutan Raudah (taman surga). Doa-doa yang dipanjatkan dari Raudah ini diyakini akan dikabulkan oleh Allah swt. Raudah terletak di antara mimbar dengan makam (dahulu rumah) Rasulullah

Diterima dari Abu Hurairah, bahwa Nabi  bersabda (yang artinya):

Tempat yang terletak di antara rumahku dengan mimbarku merupakan suatu taman di antara taman-taman surga, sedang mimbarku itu terletak di atas kolamku.” (Riwayat Bukhari)

Mihrab

Terdapat dua mihrab dalam Masjid Nabawi, satu dibangun Nabi Muhammad  dan yang lainnya dibangun oleh Khulafaur Rasyidin ketiga Utsman.  Disamping mihrab, masjid juga memiliki tempat suci lain lain yang mengindikasikan sebagai tempat salat. Ini termasuk mihrab al-tahajjud yang dibangun oleh Muhammad untuk TahajjudMihrab Fatimah.

Mimbar

Mimbar asli yang digunakan Nabi Muhammad hanya sebuah “balok kayu kurma”. Mimbar ini berdimensi 50 sentimeter (0.50 m) x 125 meter (410 ft). Juga pada tahun 629, tiga anak tangga ditambah. Kalifah pertama, Abu Bakar dan Umar, tidak menggunakan anak tangga ketiga “karena mengkuti Sunnah”, tetapi Khalifah ketiga Utsman menempatkan sebuah kubah kain diatasnya dan kursi yang terbuat dari eboni.

Pada 1395 dan kemudian oleh Sheikh al-Mahmudi pada 1417. Ini juga dipindahkan oleh Qaitbay pada akhir abad ke lima belas, yang pada Agustus 2013, tidak lagi digunakan dalam masjid.

Minaret

Minaret-minaret pertama (jumlahnya empat) 26 feet (7.9 m) dibangun oleh Umar. Pada 1307, sebuah minaret dijuluki Bab al-Salam ditambahkan oleh Muhammad bun Kalavun yang direnovasi oleh   Sultan Mehmed IV. Setelah proyek renovasi 1994, terdapat sepuluh minaret yang tingginya 104 meter (341 ft). Bagian bawah, dasar dan dan atas berbentuk silinder, segi delapan yang terlihat lebih menarik.

 

Saudi Arabia

Ketika Saud bin Abdul-Aziz mengunjungi Madinah pada 1805, pengikutnya, merobohkan setiap makam berkubah yang ada di Madinah dalam pandangannya pada pencegahan pemuliaan bangunan, termasuk Kubah Hijau yang dikatakan akan segera dihancurkan Mereka tidak menghendaki orang-orang memuliakan kuburan dan tempat yang dianggap memiliki keajaiban supranatural yang berlawanan dengan tauhid. Makam Nabi Muhammad dilepaskan dari hiasan emas dan berliannya, tetapi kubah tersebut menjadi salah satu yang masih dipelihara karena sebuah ketidaksuksesan percobaan untuk merobohkan struktur kerasnya, atau karena beberapa tahun sebelumnya Ibnu Abdul Wahhab menulis bahwa tidak berharap untuk melihat kubah dihancurkan pertentangannya pada orang-orang yang berdoa di sekitar makam.] Kejadian serupa terjadi pada 1925 ketika Ikhwan Saudi kembali merebut dan mengawasi kota Madinah.

Setelah pendirian Kerajaan Arab Saudi pada 1932, masjid mengalami modifikasi besar. Pada 1951 Raja Ibn Saud (1932–1953) merencanakan penghancuran bangunan sekitar masjid untuk membuat sayap baru ke timur dan barat dari gedung peribadatan utama, dengan tetap kolom beton dengan sentuhan seni. Kolom tertua diperkokoh beton dan dipasangi cincin tembaga diatasnya. Minaret Suleymaniyya dan Majidiyya dipindahkan menjadi dua minaret bergaya Mamluk. Dua menara tambahan ditegakkan ke barat daya dan timur laut masjid. Sebuah perpustakaan dibangun sepanjang tembok bagian barat yang menjadi tempat koleksi Al-Qur’an bersejarah dan beragam teks keagamaan lainnya.[24][32]

Pada 1974, Raja Faisal menambahkan 40,440 meter persegi untuk luas masjid.[33] Perluasan masjid juga dilakukan pada masa kekuasaan Raja Fahd pada 1985. Bulldozer turut gunakan dalam penghancuran bangunan-bangunan sekitar masjid Pada 1992, ketika konstruksi ini selesai, wilayah masjid menjadi 1.7 juta kaki. Eskalator dan 27 halaman juga ditambahkan dalam perluasan masjid. Sebanyak $.6 milyar diumumkan untuk perluasan masjid pada September 2012. RT melaporkan bahwa setelah proyek selesai, masjid dapat menampung lebih dari 1.6 juta jamaah Pada Maret tahun berikutnya, Saudi Gazette menulis “95 persen penghancuran telah diselesaikan. Sekitar 10 hotel di sisi timur perluasan dihilangkan serta sejumlah rumah dan fasilitas lain untuk membuat jalur menuju perluasan.

Di zaman modern, Raja Abdul Aziz dari Kerajaan Saudi Arabia meluaskan masjid ini menjadi 6.024 m² pada tahun 1372 H. Perluasan ini kemudian dilanjutkan oleh penerusnya, Raja Fahd pada tahun 1414 H, sehingga luas bangunan masjidnya hampir mencapai 100.000 m², ditambah dengan lantai atas yang mencapai luas 67.000 m² dan pelataran masjid yang dapat digunakan untuk salat seluas 135.000 m². Masjid Nabawi kini dapat menampung kira-kira 535.000 jemaah, dan terus berkembang pembangunannya sampai yang kita lihat sekarang ini Masjid Nabawi menjadi begitu megah dan modern.- Denatour Travel 1995

 

 

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *